Biyot's Blog

ayo maju jangan mundur !

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU DAN KONTRIBUSI MGMP DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH Agustus 30, 2011

Filed under: PENDIDIKAN — biyot @ 4:50 pm

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU DAN KONTRIBUSI MGMP

DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ditengah kerihuan yang menyoroti rendahnya mutu pendidikan di Indonesia pada umumnya dan di kabupaten Polewali Mandar pada khususnya, banyak pihak yang mengingatkan peranan guru yang begitu sentral dalam peningkatan mutu pendidikan. Hal ini didasari pemikiran bahwa titik berat pembangunan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan serta perluasan kesempatan belajar pada jenjang pendidikan menengah dalam rangka persiapan perluasan wajib belajar. Dari berbagai sorotan tersebut profesionalisme guru masih perlu dikembangkan atau dengan kata lain kinerja guru dituntut maksimal.

Peningkatan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar merupakan bagaian dari usaha peningkatan mutu pendidikan, dimana guru mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sebagai perencana, pelaksana dan dinamisator kurikulum dan bahan ajaran yang dilaksanakan sesuai dengan tingkat dan perkembangan peserta didik melalui penguasaan didaktik dan metodik.

Seiring dengan fenomena tersebut di atas, pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas telah dilaksanakan melalui berbagai upaya seperti, pengembangan dan perbaikan kurikulum, pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan,  sistem evaluasi, pengembangan bahan ajar, pelatihan guru dan tenaga pendidik, dan usaha lainnya.

Namun dalam kenyataannya upaya itu belum membawa dampak yang maksimal, termasuk dalam hal belum berhasil meningkatkan profesionalisme guru, hal ini membawa dampak belum meningkatnya prestasi siswa.

Kenyataan dilapangan menunjukkan masih rendahnya mutu lulusan pada setiap jenjang pendidikan, misalnya dapat kita lihat tingkat kemampuan siswa pada penekanan aspek kognitif dan yang lebih memprihatinkan lagi kemampuan kognitif yang dikembangkan pada siswa hanya pada jenjang yang rendah, misalnya pada jenjang pengetahuan yang berupa kemampuan dalam menyebutkan, atau mengingat fakta sehingga bersifat verbalistik, yang seharusnya pada tingkat SMP sudah berfikir abstrak.

          Dilain pihak apabila mengacu pada perkembangan kurikulum saat ini dituntut untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, yaitu dengan diterapkannya stadar kelulusan untuk menyelesaikan bahan ajar yang lebih tinggi. Sedang kenyataan dilapangan pergerakan nilai kelulusan masih sangat lamban. Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa masih ada yang perlu dikaji lebih dalam khususnya mengenai profesionalisme guru.

          Salah satu usaha yang dapat kita tempuh dalam pengembangan profesionalisme guru yang dapat dilakukan adalah kegiatan MGMP. Kegiatan MGMP yang telah dilakukan telah membawa berbagai keberhasilan, akan tetapi juga banyak menimbulkan kritik dari berbagai pihak, baik dari guru peserta, guru inti, maupun dari pemerhati pendidikan. Kritik-kritik itu berkisar tentang kurang maksimalnya MGMP dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.

          Kenyataan ini tidak bisa kita abaikan sebab dalam dunia pendidikan, salah satu hambatan yang terbesar adalah pengembangan sumber daya manusia.

 

B. Permasalahan

Berdasar penjelasan di atas timbul berbagai masalah dalam pembangunan bidang pendidikan, yaitu :

  1. Bagaimana mengembangkan profesionalisme guru yang mempunyai peranan sentral dalam peningkatan mutu pendidikan.
  2. Bagaimana mengembangkan MGMP agar keberadaannya mampu meningkatkan profesionalisme guru.
  3. Bagaiamana pola pelaksanaan MGMP agar berjalan efektif dan efesien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

 

 

C. Tujuan

          Tulisan ini bertujuan membantu kesadaran kita akan pentingnya pengembangan profesionalisme guru agar dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.

Disamping itu juga   bertujuan untuk  mengetahui gagasan-gagasan kearah pengembangan MGMP yang lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TUNTUTAN PROFESIONALISME GURU

 

1. Pengertian Profesi

          Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang erat kaitannya dengan tuntutan keahlian, pengetahuan, dan keterampilan tertentu. Profesi seseorang biasanya ditunjang oleh hal-hal dasar yang dapat mengembangkan pekerjaan dan jabatan tersebut, misalnya :

  1. Bakat
  2. Fisik dan Mental
  3. Tingkat Pengetahuan
  4. Tingkat pendidikan
  5. Keterampilan, dan sebagainya.

 

2. Karakterisitik Profesi dibidang Pendidikan

          Sedikitnya ada enam karakteristik profesi dibidang pendidikan, yaitu :

  1. Pekerjaan didasarkan atas sejumlah ilmu pengetahuan tertentu.
  2.  Selalu ada upaya peningkatan kemampuan.
  3. Melayani kebutuhan masyarakat.
  4. Memiliki norma-norma yang etis.
  5. Dapat mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah dibidangnya.
  6. Memiliki solidaritas kelompok.

 

3. Profesionalisme Guru

          Sebagai tokoh sentral dalam peningkatan mutu pendidikan, guru dituntut untuk memilki profesionalisme dalam menggeluti bidangnya. Ada lima faktor utama yang mempengaruhi kualitas guru sebagai tenaga pendidik, yaitu :

  1. Kemampuan Profesionalisme

Kemampuan profesionalisme berupa kemampuan guru menguasai pengetahuan tentang materi pelajaran yang diajarkan dan transformasinya ke dalam proses belajar mengajar. Ini juga menyangkut pemilihan strategi, penggunaan alat dan bahan ajar, serta pengelolaan kelas.

  1. Upaya Profesional

Upaya profesional berupa motivasi yang tinggi untuk mengajar. Upaya profesional juga termasuk upaya guru untuk memperbaharui, meremajakan dan memperkaya ilmu dan keterampilan yang dimiliki. 

  1. Waktu yang dicurahkan untuk Kegiatan Profesional

Faktor ini  menunjukkan intensitas guru dalam menggunakan waktu untuk mengajarkan tugas-tugas profesional.

  1. Kesesuaian antara keahlian dengan pekerjaan

Faktor ini didasarkan ansumsi bahwa guru yang dipersiapkan untuk mengajarkan suatu mata pelajaran dianggap bermutu jika guru tersebut mengajarkan mata pelajaran yang sesuai dengan keahliannya. Hal ini menyangkut keberhasilan proses belajar mengajar dapat tercapai apabila dilakukan oleh guru yang mengajarkan mata pelajaran yang sesuai dengan bidangnya.

  1. Penghasilan dan Kesejahteraan

Faktor yanng tidak kalah pentingnya yang dapat mempengaruhi profesionalisme guru adalah penghasilan dan kesejahteraan. Penghasilan yang memadai diharapkan dapat memelihara, menunjang, dan memacu upaya peningkatan profesionalisme, termasuk peningkatan keahlian, pengetahuan, efesiensi, dan efektifitas pekerjaan mengajar.

 

4. Ciri – Ciri Guru Profesional

          Sebagai tenaga pendidik yang profesional guru dituntut untuk  memahami karakteristik profesi pendidik.

Terdapat beberapa hal yang perlu dipahami oleh guru dalam proses pembelajaran, antara lain :

  1. Adanya niat bahwa mendidik adalah ibadah
  2. Pentingnya memberikan motivasi kepada siswa
  3. Mendidik tidak sama dengan mengajar
  4. Hakekat  pembelajaran untuk msing-masing mata pelajaran
  5. Berbagai tehnik dan metode dalam pembelajaran
  6. Prinsip-prinsip pembelajaran
  7. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran
  8. Pentingnya aktif dalam MGMP
  9. Makna profesionalisme yang baik dalam proses pembelajaran
  10. Perlunya meningkatkan kemampuan kepribadian, penguasaan bahan, kesadaran tepat waktu, pengelolaan kelas, dan kepemimpinan bukan sebagai bos yang hanya bisa memberi perintah.

 

Selain hal-hal di atas dalam melaksanakan profesi sehari-hari guru yang pofesional kiranya dapat menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Memahami Kurikulum

Memahami kurikulum bagi seorang guru yang profesional menjadi syarat yang tidak boleh dilupakan agar tugas profesi keseharian bisa terarah dan dapat dipertanggung jawabkan. Pemahaman kurikulum oleh guru perlu dikembangkan dengan siswa yang akan mempelajarinya. Oleh karena itu sebaiknya pada awal tahun pelajaran perlu diadakan penjajagan( matrikulasi ) agar mutu masukan diketahui sejak awal. Hasil dari penjajagan ( matrikulasi ) selanjutnya digunakan untuk menjabarkan dalam Rencana Pengajaran.

Rencana Pengajaran yang disusun disesuaikan dengan variasi kemampuan dan kebutuhan siswa, sehingga siswa dapat mengatasi berbagai kesulitan belajar.

 

  1. Mampu Mengembangkan Model Pembelajaran

Meskipun tidak mudah dilakukan oleh guru, guru hendaknya dinamis dalam mengajar agar tidak terjebak dalam pembelajaran yang monoton, membosankan yang menyebabkan ketercapaian rendah. Oleh karena itu guru hendaknya mampu mengembangkan model pembelajaran agar proses belajar mengajar yang dilakukan berlangsung secara efektif,  untuk syarat dalam mengembangkan  adalah mengusai berbagai metode pembelajaran.

 

  1. Mampu Merencanakan dan Mengembangkan Pelajaran

Hal ini menyangkut kemampuan guru dalam merumuskan bahan ajar, menganalisis materi, merumuskan kopetensi dasar dan indikator, yang tepat sesuai dengan pokok/sub pokok bahasan termasuk pemilihan dan pembuatan/media yang digunakan.

 

  1. Mampu Melakukan Evaluasi

Seorang guru yang profesional harus mampu melaksanakan evaluasi secara tepat untuk mengambil keputusan  bagi peningkatan mutu pembelajaran dan prestasi belajar siswa. Evaluasi yang tepat bermanfaat bagi pengumpulan informasi yang selanjutnya dianalisis dan diperoleh informasi yang terpercaya, handal dan sahih.

 

  1. Mampu Mengorganisasi Siswa

Keberhasilan guru dalam mengajar tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan penguasaan materi maupun penggunaan metode, tetapi juga faktor lain yaitu kemampuan mengorganisasi siwa. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya tingkah laku yang mengganggu jalannya proses pembelajaran. Ada beberapa jenis pendekatan dalam pengorganisasian siswa, misalnya melakukan pembiasaan, modifikasi perilaku, menciptakan iklim sosial yang kondusif, dan proses kerja kelompok. 

 

  1. Adanya Perubahan dan Perbaikan pada Siswa

Belajar adalah suatu kegiatan yang menghasilkan perubahan tingkah laku dalam pengetahuan, sikap dan keterampilan, tentu saja tingkah laku yang dimaksud adalah yang positif dalam kaitannya dengan kesempurnaan hidup.

Dari berbagi macam teori belajar, pada dasarnya tujuan belajar adalah adanya perubahan tingkah laku yang positif atau adanya nilai tambah dalam kurun waktu tertentu. Dalam hal ini tentu saja menuntut guru yang profesional mampu mendorong perubahan tingkah laku yang positif pada anak didik.

 

5. Tantangan Kinerja Guru Kabupaten Polewali Mandar

          Paradigma lama yang menjadi catatan guru selama ini adalah bahwa pengelolaan pendidikan lebih bersifat macro-urientid , yakni banyak diatur oleh banyak faktor yang diproyeksikan ditingkat macro ( pusat ), tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya ditingkat micro ( sekolah ). Dengan kata lain bahawa kompleksitas cakupan permasalahan pendidikan, kondisi lingkungan sekolah dan bervariasinya kebutuhan siswa dalam belajar serta aspirasi masyarakat terhadap pendidikan seringkali tidak dapat tepikirkan secara utuh dan akurat oleh para birokrat ditingkat pusat.

          Berlangsungnya pendidikan yang sentralistik itu berdampak serius terhadap dunia pendidikan yaitu makin jauh jarak antara yang ideal dengan realitas pendidikan di Indonesia. Idealnya pendidikan merupakan upaya memanusiakan manusia muda, dengan demikian arah dasar pendidikan adalah demi pemekaran potensi pribadi peserta didik. Jadi sekolah mestinya tumbuh dan berkarya dalam sebuah sistem dan budaya demokratis. Paradigma lama tersebut menjadikan kontraversial, para praktisi pendidikan berangapan bahwa sistem pendidikan yang sentralistik yang memicu problema pendidikan, pada sisi lain mungkin jajaran pusat beranggapan pada level microlah masalah itu muncul.

 

          Disamping itu paradigma selama ini juga berpengaruh terhadap kineja guru, sudah sejak lama guru dikondisikan oleh berbagai aturan administratif, sehingga tidak bisa berbuat lain kecuali berperan sebagai ujung tombak kepentingan pusat dari pada sebagai seorang pendidik yang memiliki independensi profesional.

          Dalam konteks bagaimana guru mendorong siswa agar mengetahui, menangkap realitas dan kontak dengan lingkungan, ada beberapa catatan tentang kinerja guru di kabupaten Polewali Mandar, yakni :

  1. Banyak guru yang masih mengandalkan metode ceramah dan tanya jawab, bahkan mungkin lebih dari 70 % waktu untuk ceramah dalam pemberian pelajaran. Hal ini menyebabkan penguasaan materi pelajaran oleh siswa makin abstrak.
  2. Masih banyak guru yang awam melakukan kegiatan out-door     dalam penyampaian materi pelajaran.
  3. Ditengarahi guru belum memiliki kreativitas yang efektif dan efesien dalam penyampaian materi pelajaran.
  4. Guru masih terpaku pada paradigma lama yang sentralistik tanpa melihat kesesuaian dengan lingkungan dan potensi pribadi siswa.
  5. Tidak banyak guru yang dapat memanfaatkan isu-isu baru yang dapat mendorong motivasi siswa.
  6. Penggunaan media pembelajaran masih kurang dimanfaatkan, sehingga menyulitkan siswa dalam mengembangkan potensi afektif dan psikomotoriknya.

 

Dari kenyataan tersebut di atas, merupakan hal yang  sangat memprihatinkan karena pembelajaran menjadi kering, bahkan menggiring siswa untuk terjebak pada kondisi yang menjauhkan siswa dari proses belajar yang sesungguhnya.

 

6. Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru di Kabupaten Polewali Mandar

          Berdasarkan tantangan yang diuraiakan di atas, guru sebagai tokoh sentral dalam pembangunan dibidang pendidikan perlu mendapat perhatian tersendiri dalam hal pengembangan profesinya.

          Meskipun belum berjalan secara maksimal kearah peningkatan profesionalisme guru yang ideal akan tetapi sudah nampak berbagai upaya kearah pengembangan profesionalisme guru.

 Terdapat berbagai upaya peningkatan profesionalisme guru yang menurut pengamatan penulis sudah dan akan dilaksanakan di kabupaten Polewali Mandar, yaitu :

  1. Diklat dan pelatihan bagi guru, baik yag dilakukan ditingkat daerah, regional maupun nasional

Kegiatan ini memberikan andil yang signifikan bagi peningkatan mutu pendidikan di kabupaten Polewali Mandar, sebab dengan pelatihan yang dilaksanakan secara efektif dan kontinyu akan memberikan dampak positif bagi guru yaitu meningkatkan wawasan dan keterampilan guru dalam mengajar di sekolah

  1. Pemenuhan sarana pembelajaran yang lebih memadai, yang dapat memudahkan guru dalam proses pembelajaran.
  2. Peningkatan profesionalisme guru melalui pendidikan formal dan non formal yang pelaksanaannya didukung penuh oleh birokrasi
  3. Kualifikasi dan sertifikasi yang menuntut profesionalisme guru perlu segera diwujudkan
  4. Pengelolaan pendidikan yang desentralisasi dimana sekolah deberikan keleluasaan mengelola pendidikan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungannya
  5. Independensi profesi guru perlu ditumbuhkan agar guru memiliki keleluasaan dan tidak terjebak pada sistem adminitratif yang sentralistik
  6. Peningkatan penghasilan dan kesejahteraan guru demi pengembangan profesinya.

 

Upaya-uapaya tersebut perlu dilakukan dengan mengerahkan seluruh potensi yang dapat mendukung  peningkatan mutu pendidikan. Baik keterkaitan antara birokrasi sebagai pengelola pendidikan, sekolah, guru, dan siswa serta masyarakat selayaknya memiliki komitmen dalam pembangunan bidang pendidikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KONTRIBUSI MGMP DALAM PEMBELAJARAN

 

1.  Kontribusi Nyata MGMP dalam Pembelajaran

          Standar nasional pendidikan megisyaratkan, bahwa proses pembelajaran pada suatu pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Oleh karena setiap satuan pendidikan hendaknya melakukan perencanaan, proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran untuk   terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efesien.

          Tuntutan proses pembelajaran tersebut menuntut guru untuk selalu mengembangkan diri agar dapat  memenuhi terlaksananya proses pembelajaran secara maksimal. Dilain pihak kegiatan pembelajaran dilapangan masih menemui masalah dan hambatan. Atas dasar pemikiran tersebut, maka bagi guru dibutuhkan wadah yang dapat menginventarisasikan masalah dan hambatan tersebut.

          Forum MGMP merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah dan hambatan guru dalam proses pembelajaran, dimana dalam MGMP berusaha untuk saling berbagi pengalaman, pengetahuan dan terus berefleksi/berdiskusi. Kontribusi nyata kegiatan MGMP yang telah dirasakan pada guru adalah sebagai berikut :

 

  1. Membuat Perangkat Pemelajaran

Perangkat pembelajaran adalah salah satu modal pokok yang harus dibuat dan dikembangkan oleh guru. Perangkat pembelajaran yang baik akan mendorong proses pembelajaran yang baik pula. Tugas profesi guru yang meliputi perencanaan, pelakasanaan/proses, dan evaluasi yang kemudian diwujudkan dalam perangkat pembelajaran akan lebih baik dan berkembang apabila dibahas dan didiskusikan dalam forum MGMP. Perangkat pembelajaran itu meliputi :

  1. Program Tahunan dan Program Semester
  2. Analisis Materi Pelajaran
  3. Rencana Pengajaran
  4. Evaluasi

 

  1. Membuat Alat Peraga yang sesuai dengan Materi

Alat peraga yang dirumuskan disesuaikan dengan kondisi yang ada, sehingga guru menjadi tidak terpaku pada satu alat peraga saja, tetapi , makin banyak alat peraga yang dapat diintroduksikan untuk pembelajaran

 

  1. Memanfaatkan Isu-isu Baru di Media Masa

Dengan berkembangnya alat komunikasi mendorong percepatan dalam memperoleh informasi yang aktual dan up to date. Isu-isu baru yang muncul itu dapat didiskusikan dalam MGMP yang selanjutnya dijadikan sarana untuk memotivasi siswa.

 

  1. Mendorong Siswa Berkreasi

Salah satu hasil yang dapat dilaksanakan di sekolah dari kegiatan MGMP adalah dari hasil tukar pendapat dengan peserta dapat memunculkan wawasan dan pandangan yang lebih segar, sehingga dapat diterapkan di sekolah. Dengan mendorong siswa untuk lebih inisiatif dan kreatif, misalnya mendorong siswa untuk menulis, melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah, dan sebagainya.

 

  1. Penerbitan

Kerjasama antara MGMP dengan lembaga penerbitan dengan memproduksi LKS yang dapat dipakai dalam satu kabupaten.

 

  1. Mendorong Percaya Diri

Berbagai hal yang dapat dilakukan setelah mengikuti MGMP adalah berkembangnya rasa percaya diri dengan terus berkarya, berdiskusi dan berproses.

 

2. Pengelolaan dan Pengembangan MGMP di Kabupaten Polewali Mandar

          MGMP sebagai salah satu alternatif peningkatan profesionalisme guru memberikan kontribusi yang signifikan dalam proses pengajaran. Dari contoh-contoh kontribusi nyata MGMP dalam pembelajaran perlu kiranya dikelola dengan mengerahkan seluruh komponen pendidikan.

          Pada tahapan pengelolaan selama ini, MGMP di kabupaten Polewali Mandar mampu meningkatkan mutu dan kegairahan guru dalam proses belajar mengajar. Agar MGMP mampu menjadi alternatif dalam meningkatkan profesionalisme guru menurut hemat penulis terdapat sistem MGMP yang efektif dan efesien.

Dengan memperhatikan langkah-langkah pemecahan permasalahan melalui diskusi dalam wadah MGMP, dengan tahapan sebagai berikut :

  1. Menemukan latar belakang masalah
  2. Mengidentifikasi masalah
  3. Pembahasan masalah
  4. Perumusan masalah
  5. Mencari alternatif pemecahan masalah
  6. Memilih alternatif pemecahan yang paling baik
  7. Menentukan langkah-langkah kegiatan

 

Sedangkan pada tahapan pelaksanaan ada beberapa komponen yang mestinya dirumuskan oleh peserta MGMP, yaitu :

  1. Pendalaman materi pelajaran
  2. Analisis materi pelajaran
  3. Menyususn program pengajaran, baik Progran Tahunan maupun Program Semester
  4. Menyusun persiapan mengajar
  5. Menyiapkan media pendidikan
  6. Melasanakan program
  7. Mengevaluasi pelakasanaan program
  8. Menyusun evaluasi materi pelajaran
  9. Menganalisis hasil evaluasi
  10. Menyusun progam MGMP selanjutnya.

Oleh karena mengingat pentingnya MGMP dalam meningkatkan mutu dan kemampuan guru, maka perlu beberapa pengembangan yang kiranya dapat dilaksanakan, yaitu :

  1. Pengembangan Program yang Fariatif

Program-program MGMP perlu dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kegiatan yang menarik, menantang dan merangsang guru untuk mengembangkan karirnya. Hendaknya dipilih program pelatihan yang mampu mendorong berkembangnya kreatifitas guru dalam kinerjanya.

  1. Desentralisasi

Wewenang melaksanakan MGMP hendaknya diserahkan pada kreatifitas guru dilapangan. Oleh karena itu wewenang pusat terhadap pelaksanaan MGMP hendaknya dikurangi, mengingat apa yang selama ini diproyeksikan oleh pusat telah menyebabkan terpasungnya pelaksanaan-pelaksanaan tugas dilapangan, sebab guru hanya melakukan apa yang sudah ditentukan.

  1. Kembangkan Antusiasme Guru

Antusiasme guru perlu dikembangkan. Seorang guru perlu memiliki motivasi pribadi yang mendorong melakukan sesuatu. Terdapat beberapa motivasi yang harus dimiliki oleh seorang guru antara lain :

  1. Menunjukkan kemauan yang keras dalam menyajikan bahan keilmuan
  2. Berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat
  3. Memberikan kesadaran kepada siswa bahwa  sekolah bukan merupakan penekanan, tetapi agar mereka memiliki intensitas untuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugas.
  4. Demokratisasi Pendidikan

Tantangan masa depan muncul seiring dengan dinamika kehidupan bangsa sebaga dampak globalisasi menuntut adanya format pendidikan yang dibangun dalam sistem yang demokratis. Demokratisasi pendidkan akan mendorong menculnya partisipasi sukarela, keswasembadaan, kemadirian. Oleh karena itu program-program yang disusun dalam MGMP sudah selayaknya melibatkan guru atau peserta MGMP.

 

  1. MGMP Mandiri

Salah satu kendala yang cukup penting adalah bahwa selama ini MGMP tak dapat berjalan mandiri, ini terjadi karena berbagai kebutuhan bergantung pada pemerintah. Para pelaksana dilapangan tidak leluasa dalam mengembangkan kreatifitas. Sudah saatnya dipikirkan MGMP mandiri, yang mampu membiayai berbagai kegiatan.

  1. Efektifitas MGMP

Suara minor tentang kurang efektifnya MGMP perlu dikaji lebih  jauh. Salah satu kendala yang banyak dialami oleh guru adalah banyaknya beban mengajar dan kondisi sekolah yang tidak mendukung.

  1. Kerjasama dengan pihak Luar

Selama ini berbagai kegiatan MGMP mampu menghasilkan produk-produk yang dapat dimanfaatkan untuk kerjasama dengan pihak luar, baik itu hasil penelitian, pengembangan kreatifitas, alat peraga, dan sejenisnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

     Berdasarkan uraian yang telah ada tersebut, dapat disimpulkan :

  1. Guru dalam pembangunan bidang pendidikan adalah sebagai tokoh sentral yang harus mendapatkan perhatian untuk berkembang
  2. Diperlukan berbagai upaya untuk mengembangkan profesionalisme guru
  3. Profesionalisme guru hendaknya diproyeksikan untuk mengembangkan mutu pendidikan
  4. Profesionalisme guru perlu dikembangkan untuk menunjang proses pembelajaran yang lebih efektif dan efesien.
  5. MGMP dapat mendorong kreatifitas dan meningkatkan mutu pembelajaran di kabupaten Polewali Mandar
  6. Makin berkembangnya MGMP, diharapkan dapat mendorong kinerja guru kearah yang lebih bervariasi dan memanfaatkan lingkungan
  7. MGMP dapat mendorong berkembangnya ikilim pendidikan yang demokratis, guna mendorong berkembangnya profesionalisme guru  

 

B. Saran –Saran

  1. Bagi semua pihak yang peduli terhadap pendidikan, mari kita menciptakan iklim yang dapat mendorong berkembangnya profesionalisme guru
  2. bagi pihak yang berkaitan langsung maupun tidak langsug dengan pembangunan bidang pendidikan perlu ikut berpartisipasi terhadap peningkatan mutu pendidikan di kabupaten Polewali Mandar.
  3. Kepada para pemerhati pendidikan mari kita buka wacana pemikiran yang mampu membuka peluang-peluang bagi makin berkembangnya MGMP
  4. Kepada rekan-rekan guru, mari kita songsong otonomi daerah dengan bekal terus berkarya, belajar, dan menumbuhkan iklim pendidikan yang demokratis.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Milan Rianto. (1997). Mertodologi Pembelajaran. Semarang : Suara Merdeka
  2. 2.    Saptono. ( 19999 ). Kurikulum Baru atau Deemokrasi. Semarang IKIP PRESS
  3. Pedoman MGMP. Jakarta. Depdikbud
  4. Bulletin Pelangi Pendidikan . Jakarta. Depdikbud ( 2000 )
  5. 5.    Conny Setiawan. Utami Munandar. Agus Tangyong. Pengenalan dan pengembangan Bakat Sejak Dini. Jakarta. Depdikbud ( 1994/1995 )
  6. Materi Latihan Kerja Guru. Jakarta : Depdikbud. ( 1994 )
  7. Kurikulum 2004 SMP. Jakarta : Departemen Pendidikan ( 2004 )
  8. Materi Bridging Course. Jakarta : Departemen Pendidikan ( 2006 )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.