Biyot's Blog

ayo maju jangan mundur !

Hakikat dan Paradigma Teori Sosial Mei 1, 2011

Filed under: HUKUM — biyot @ 11:11 am

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang

Perkembangan Ilmu pengetahuan pada dasanya seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Dimana dari sumber filsafat selanjutnya berkembang menjadi beberapa macam cabang ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dan humaniora yang dijadikan dasar dari munculnya bermacam-macam teori.

Salah satu cabang ilmu pengetahuan adalah ilmu sosial. Ilmu sosial dinamakan demikian, karena ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehiduapan bersama sebagai objek yang dipelajari. Ilmu-ilmu sosial belum memiliki kaidah dan dalil yang tetap dimana oleh bagian yang terbesar masyarakat, oleh karena itu ilmu sosial belum lama berkembang, sadangkan yang menjadi objeknya masyarakat terus berubah. Sifat masyarakat terus berubah-ubah, hingga belum dapat diselidiki dianalisis secara tuntas hubungan antara unsur-unsur dalam kehidupan masyarakat yang lebih mendalam. Lain halnya dengan ilmu pengetahuan alam yang telah lama berkembang, sehingga telah memiliki kaidah dan dalil yang teratur dan diterima oleh masyarakat, dikarenakan objeknya bukan manusia. Ilmu sosial yang masih muda usianya, baru sampai pada tahap analisis dinamika artinya baru dalam datara tentang analisis dataran masyarakat manusia yang bergerak. (Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar).

Ditengah kehidupan masyarakat, banyak sumber pengetahuan yang bersifat taken for granted, sumber tanpa perlu diolah lagi tetapi diyakini akan membantu memahami realitas kehidupan ini. Masyarakat dapat langsung begitu saja memakai pengetahuan taken for granted tersebut sebagai sebuah pegangan yang diyakini benar atau berguna untuk meemmahami dunia dimana ia hidup. Jenis pengetahuan tanpa diolah lagi tentu saja banyak dan tersebar, mulai dari system keyakinan, tradisi agama, pandangan hidup ideology, paradigma dan juga teori, dan termasuk didalamnya teori sosial. Dalam masyarakat intelektual, terutama dalam tradisi positivisme lazim untuk mengambil sumber pengetahuan taken forr granted tersebut dari ranah paradigma dan teori. Kendati demikian, teori sebenarnnya bukan hanya untuk kalangan intelektual atau kalangan expert, mesti tidak sedikit yang berpandangan hanya kalangan intelektual atau akademisi saja yang membaca realitas sosial tidak dengan telanjang, melainkan dengan kacamata teori tertentu. Memang telah menjadi tradisi dikalangan intelektual dalam membaca realitas sosial dengan menggunakan kacamata atau teori tertentu. (Zainuddin Maliki, Narasi Agung)

Dalam beberapa hal, teori ilmiah berbeda dengan asumsi-asumsi yang telah ada dalam kehidupan sehari-hari dan secara tidak sadar telah dimiliki orang. Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi suatu teori yang merupakan bagaian dari kegaitan ilmiah. Dalam memamasuki era pelahiran ini merupakan kajian dari teori yang eksplisit, sehingga menjadi objektif, kritis, dan lebih abastrak dari pada yang dilakasanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses pembentukan teori tidak pernah muncul dari awal, tidak mungkin bagi ahli teori sosial untuk menghilangkan pengaruh-pengaruh pengalaman sosial pribadinya. Proses pembentukan teori berlandaskan pada images fundamenatal tertentu mengenai kenyataan sosial. Gambaran tersebut dapat melingkupi asumsi filosofis, dasar mengenai sifat manusia dan masyarakat, atau sekurang-kurangnya pandangan yang mengatakan bahwa keteraturan tertentu akan dapat diramalkan dalam dunia sosial. Teori ilmiah lebih menggunakan metodologi dan bersifat empiris. (Doyle Paul Jonshon, Teori Sosiologi Klasik dan Modern)

Pengklasifikasian dalam ilmu sosial terdapat tiga perfektif besar yang berkembang selama ini, yakni perfektif struktural fungsional, struktural konflik serta konstruksionisme.  

Micheal Root dalam philosophy of sosial science, membedakan jenis ilmu sosial, yakni ilmu sosial yang bercorak liberal dan ilmu sosial bercorak perfeksionis. Ilmu sosial liberal dikarenakan ia tidak berusaha mempromosikan suatu cita-cita sosial, nilai keajegan tertentu. Akar dari gagasan liberal ialah liberalisme dalam politik. Peneliti dalam ilmu ini bersifat neutralisme, tetapi tidak pernah terjadi dalam ilmu sosial. Lain halnya dengan ilmu sosial yang bercorak perfeksionis berusaha mencari wahana dari cita-cita mengenai kebajikan, jadi dalam ilmi ini bersifat partisipan. Ilmu sosial ini bersifat tidak bebas nilai, menghargai objek-objek ubjek yang diteliti dan bahkan menjadikannya sebagai subjek.

Dalam kaitannya dasar teori sosial yang menjadi sumber ilmu sosial, maka teori sosial adalah semua bidang ilmu pengetahuan mengenai manusia dalam konteks sosialnya (sebagai anggota masyarakat) atau ilmu pengetahuan yang memperlajari aspek-aspek kehidupan manusia di masyarakat. Dengan kata lain ilmu yang mencakup sosiologi, anthropologi, ilmu ekonomi, ilmu pendidikan, ilmu hukum, psikologi sosial, geografi dan lain-lain.

Mengingat cakupan yang sangat luas dan universalisasi dari teori sosial, maka sangatlah sulit untuk mengkaji secara mendalam ilmu sosial dan cabang-cabangnya karena bersumber dari perilaku masyarakat yang selalu dinamis. Oleh karena itu dalam perlu ada telaah yang beragam dalam memahami teori sosial yang menjadi sumber dari ilmu sosial yang mencakup hakikat dari teori sosial,  perkembangan teori sosial, perubahan sosial, serta bagaimana teori sosial membawa pengeruh pada gerakan sosial agar nantinya ilmu sosial dapat lebih mudah diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat.

  1. B.    Rumusan Masalah
  2. Apakah yang menjadi hakikat dari teori sosial ?
  3. Bagaimana  paradigma ilmu sosial sebagai landasan teori sosial ?
  4. Aspek-aspek apa sajakah yang menimbulkan perubahan sosial ?
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat dirumuskan masalah makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. C.    Tujuan

Tujuan penyusunan makalah ini adalah :

  1. Memenuhi tugas pada mata kuliah  Pengembangan Teori Sosial Program Pasca Sarjana Magister Pendidikan IPS Universitas Kanjuruhan Malang
  2. Sebagai bahan literatur bagi pihak-pihak yang ingin menkaji ilmu sosial
  3. Sebagai upaya memberikan sumbangan pemikiran dalam kaitannya dengan pengembangan teori-teori  sosial
  4. Sebagai bahan perbandingan dengan kajian-kajian yang lain dalam kaitannya dengan implementasi teori sosial dalam kehidupan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.     Hakikat Teori Sosial

Dalam sosiologi, sadar atau tidak, sebenarnya semua orang melakukan proses berteori, dan atau mempratikkan teori, baik ia sudah memahami apa sebenarnya teori maupun yang tidak.  Misalnya anak muda yang berusaha menentukan hari depannya, orang tua yang berusaha menyesuaikan diri dengan perilaku anaknya, para pedagang yang merencanakan perkulakannya, pemimpin politik berdebat tentang kebijakan tertentu merupakan contoh-contoh kehidupan sehari-hari bagaimana orang sedang menerapkan teori hasil interpretasi atas pegalaman-pengalamannya di masa lalu dan proyeksinya ke depan.        Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa tindakan mereka diarahkan oleh masa lalu dan masa depan, janghka panjang dan jangka pendek, samar-samar atau transparan. Hal itu adalah cara bagaimana masyarakat melihat fakta dan menginterpretasikannya. Menurut Johnson, salah satu jalan dalam berteori memang dengan membuat interpretasi atau penafsiran-penafsiran atas konteks masyarakat tertentu. Interpretasi ini berguna untuk menjelaskan suatu peristiwa sosial tertentu. Seseorang bisa menjelaskan dia telah mengalami peristiwa yang baik atau buruk, senang atau menyedihkan.

Prosesnya dengan mencoba membandingkan dengan pengalamannya di masa lalu, baik yang serupa maupun relatif serupa, dan menghubungkannya dengan pengalaman di masa kini. Setelah itu dia akan mendapatkan gambaran yang cukup mewakili, dan ia akan memulai untuk melakukan interpretasi-interpretasi yang dia yakini kebenarannya.
Namun demikian, perlu diketahui bahwa dalam membangun suatu teori dalam sosiologi diperlukan alat atau metode agar tercipta proposisi yang sitematis, dan logis. Ringkasnya, meski para sosiolog hingga saat ini masih berdebat tentang orientasi positivis dan neo-positivis dalam konstruksi teori, namun mereka bersepakat bahwa sosiologi sebagai ilmu pengetahuan bersifat empirik–berangkat dan berhenti pada gejala sosial yang empirik.

Sketsa Historis Pertumbuhan Teori Sosial. Perkembangan teori sosiologi tidak lepas dari pengaruh perubahan sosial, dan pertumbuhan intelektual yang berkembang pada abad pertengahan.  Abad Pencerahan (Enlightment), revolusi politik Perancis (1789), dan revolusi industri, terutama yang melanda masyarakat Eropa pada abad 19 dan awal abad 20 merupakan faktor langsung yang memunculkan teori sosiologi.
Sebagai akibat revolusi industri, sebagian banyak orang di abad 19 dan abad 20 tercabut dari akarnya dari lingkungan pedesaaan mereka, dan pindah ke lingkungan urban. Migrasi besar-besar ini sebagaian besar disebabkan oleh lapangan kerja yang diciptakan sistem industri di kawasan urban. Tetapi migrasi ini menimbulkan berbagai persoalan bagi yang harus menyesuaikan diri dengan kehidupan.

Kondisi kehidupan urban dan berbagai masalah yang dihadapinya menarik perhatian banyak sosiolog awal, terutama Weber dan George Simmel. Bahkan, aliran utama sosiologi Amareika pertama dikenal sebagai madzhab Chicago memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah kota Chicago, dan karena ketertarikannya, aliran ini menjadikan kota Chicago sebagai laboratorium tempat untuk meneliti urbanisasi dan berbagai masalah yang ditimbulkannya.

Selain itu, perubahan sosial yang diakibatkan oleh revolusi politik, industri, dan sosial juga berpengaruh besar terhadap religiositas. Banyak sosiolog awal yang berlatar belakang religius dan secara aktif terlibat di dalam aktivitas keagamaan professional.

Lebih lanjut, transformasi sistem industri Barat ini juga memunculkan birokrasi ekonomi berskala besar untuk memberikan pelayanan yang dibutuhkan oleh industri dan system ekonomi kapitalis. Harapan utama dari ekonomi kapitalis adalah sistem pasar bebas tempat memperjualbelikan beberapa produk industri.  Dari situasi seperti itulah munculnya reaksi yang menentang sistem industri dan kapitalisme pada umumnya.

Pergolakan ini pula yang sangat mempengaruhi para sosiolog. Empat tokoh utama dalam sejarah awal teori sosiologi Marx, Weber, Durkheim, dan Simmel sangat prihatin atas perubahan-perubahan sosial besar dan berbagai masalah yang ditimbulkannya bagi masyarakat sebagai keseluruhan.

Meski faktor sosial begitu berpengaruh, namun kekuatan intelektual tentu saja tidak dapat dipisahkan dalam pertumbuhan sosiologi, khususnya terkait dengan renaissance atau abad pencerahan. Banyak pengamat berpendapat bahwa pencerahan sebagai factor penting yang mempengaruhi evolusi teori sosiologi. pencerahan merupakan perkembangan intelektual dan pembahasan filsafat yang luar biasa.     Sejumlah gagasan dan keyakinan lama kebanyakan terkait dengan kehidupan sosial dibuang dan diganti selama periode pencerahan. Seperti Karl Marx, teori-teorinya sangat dipengaruhi secara langsung oleh pemikiran pencerahan. Durkheim juga dianggap sebagai pewaris tradisi pencerahan karena penekanannya pada sains dan reformasi sosial. Namun demikian, pengaruh abad pencerahan terhadap teori sosiologi lebih bersifat tak langsung. Seperti dinyatakan Zeittlin “Sosiolog awal dikembangkan sebagai reaksi terhadap pencerahan: (1996;10). Seperti Comte yang sangat prihatin  terhadap anarki yang merasuki masyarakat dan mencela pemikir Perancis yang menimbulkan pencerahan dan revolusi.

Sedangkan Johnson secara ringkas membagi akar sejarah pertumbuhan teori sosiologi menjadi 4 fase, yakni Politik Ekonomi Laisses Faire dan Utilitarianisme, Positivisme Perancis Paska Revolusi, Historisisme Jerman, serta Pragmatisme Amerika dan Psikologi Sosial.

Politik Ekonomi Laisses Faire dan Utilitarianisme dalam perspektif teori ini, manusia secara individual merupakan pusat dari segala macam kegiatan ilmiah dalam masyarakat.  Teori-teori ini bersifat sangat individualisti. Teori ini memandang manusia pada hakekatnya bersifat rasional. Prinsipnya adalah mereka selalu melakukan perhitungan laba rugi dalam perspektif ekonomi; menghitung dan mengadakan piluhan yang dapat memperbesar kesenangan maupun keuntungan pribadi, dan berupaya mengurangi beban biaya penderitaan atau kerugian.

Salah satu tokoh  yang paling berpengaruh disini adalah Adam smith melalui karyanya, The Wealtlth of Nations. Smith mengemukakan bahwa kesejahteraan masyarakat pada umumnya dalam jangka panjang akan sangat terjamin apabila individu itu dibiarkan secara bebas untuk mengelola dirinya sendiri secara ekonomis.

  1. Positivisme Perancis Paska-Revolusi.

Pengertian positivisme disini dimaknai sebagai pendekatan terhadap pengetahuan empiris. Tokoh yang paling berpengaruh adalah leh St. Simon dan Auguste Comte, di Perancis pada awal pertengahan abad ke-19.  Positivsime menisbatkan manusia adalah bagian dari alam semesta yang niscaya dikendalikan oleh hukum-hukum alam. Hukum alam itu sendiri dapat ditemukan dengan menerapkan hukum-hukum teknik ilmiah yang bersumber dari kemampuan akal manusia.

  1. Historisisme Jerman.

Karakter utama periode ini adalah adanya pembedaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, hal yang tidak dilakukan oleh tradisi positivisme. Menurut tradisi pemikiran dari Jerman ini, hukum-hukum alam memang menentukan peristiwa-peristiwa dalam dunia fisik, namun harus diingat bahwa dunia manusia dalah dunia kebebasan, dimana di dalanya terdapat pilihan-pilihan yang bersifat deterministik.   Pemahaman terhadap arti-arti subyektif. Pandangan ini kemudian dilanjutnya oleh Max Weber

  1. Pragmatisme Amerika dan Psikologi Sosial.

Konstribusi utama sosiologi Amerika sampai dewasa ini adalah perkembangan ilmu psikologi sosial yang melahirkan perspektif interaksionalisme simbolik. Perkembangan ini dikaitkan dengan aliran Chicago tahun 1920-1930. perlu dikatahui, bahwa sebenarnya perkembangan sosiologi Amerika sampai sejauh ini telah didahului oleh penyerapan akar-akar sosiologi yang berkembangan luas di Eropa sebelumnya. Karakter khas dalam mentalitas Amerika adalah bahwa mereka tidak bisa menerima ide-ide yang bersifat spekulatif, abstrak, dan tidak memiliki nilai guna praktisnya secara langsung. Karenanya perspektif sosiologi yang berkembang di Amerika disebut dengan sosiologi pragmatis. Menurut mereka, oide-ide tentu saja berkaitan erat dengan tindakan manusia itu sendiri. Tujuannya adalah untuk mengatasi problem-probblem sosial secara nyata, dan tidak lagi bersifat abstrak serta spekulatif.

Demikian itu akar dan tahapan pertumbuhan teori sosial yang muncul hingga dewasa ini. Namun perlu diingat, bahwa perspektif yang ada ini bukanlah sesuatu yang final. Sebab teori sosial selalu mengikuti perkembangan masyarakat itu sendiri. Dan tidak menutup kemungkinan di masa mendatang akan muncul perspektif-perspektif baru lagi unmtuk melihat masyarakat.

  1. B.    Paradigma Ilmu Sosial

            Paradigma dapat didefinisikan bermacam-macam sesuai dengan sudut pandang masing-masing orang. Ada yang menyatakan paradigma merupakan citra yang fundamental dari pokok permasalahan suatu ilmu. Paradigma menggariskan apa yang seharusnya dipelajari, pernyataan-pernyataan yang seharusnya dikemukan dan kaidah-kaidah apa yang seharusnya diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperolehnya. Paradigma diibaratkan sebuah jendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak menjelajahi dunia dengan wawasannya.

George Ritzer mendefinisikan tentang paradigma gambaran fundamental mengenai subjek ilmu pengetahuan. Ia memberikan batasan apa yang harus dikaji, pertanyaan yang harus diajukan, bagaimana harus dijawab, dan aturan-aturan yang harus diikuti dalam memahami jawaban yang diperoleh. Paradigma merupakan unit consensus yang amat luas dalam ilmu pengetahuan dan dipakai untuk memalakukan pemilihan masyarakat ilmu pengetahuan (sub-masyarakat) yang satu dengan masyarakat pengetahuan yang lain. Dengan paradigma menjadikan suatu pengetahuan akan mendapatkan informasi teori yang dapat mengkoordinasikan pengetahuan dan memberikannya makna.

Sebagai suatu konsep paradigma pertama kali dikenalkan oleh Thomas Kuhn dalam karyanya the structure of scientific revolution, kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs melalui bukuya socilology of sociology 1970. Tujuan utama dalam bukunya Kuhn; ia menentang asumsi yang berlaku secara umum dikalangan ilmuan mengenai perkembangan ilmu pengetahuan. Kalangan ilmuan pada umumnya berdiri bahwa perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan terjadi secara komulatif. Kuhn menilai pandangan demikian merupakan mitos yang harus dihilangkan. Sedangkan tesisnya bahwa perkembangan ilmu pengetahuan bukan terjadi secara komulatif tetapi secara revolusi. Perubahan yang utama dan penting dalam ilmu pengetahuan terjadi akibat dari revolusi, bukan karena perkembangan secara komulatif. (George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda).

Paradigama sosial mengacu pada orientasi perceptual dan kognitif yang dipakai oleh masyarakat komunikatif untuk memahami dan menjelaskan aspek tertentu dalam kehidupan sosial. Paradigma sosial terbatas pada pandangan dua hal; pertama, paradigma sosial yang hanya dimiliki oleh kalangan terbatas dan tidak melulu diterima oleh anggota masyarakat. Masyarakat yang menerima paradigma ini masyarakat ilmiah, terciptanya komunikasi guna menciptakan paradigma sosial. Kedua, paradigma sosial yang berlaku dalam aspek tertentu dari kehidupan dan bukan aspek yang menyeluruh. Paradigma sosial lebih terbatas dalam ruang lingkung penerimaan dari pada pandangan dunia yang berlaku, sebagai element dasar dari paradigma sosialmerupakan pandangan dunia baik dalam komponen dasar, keyakinan atau system keyakinan dan nilai-nilai yang terkait.  Sebagaimana dalam pandangan Stephen Cotgrove paradigma memberikan kerangka makna, sehingga pengalaman memberikan makna dan dapat dipahami.

Terdapat beberapa paradigma sosial yang berkembang, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. 1.  Ilmu Sosial Posivistik

Positivistic merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang paling awal muncul dalam dunia ilmu pengetahuan. Keyakinan faham aliran ini pada ontology realisme yang menyatakan bahwa realitas ada (exist) dalam kenyataan berjalan sesuai dengan hokum alam (natural lows).       Positivis muncul pada abad 19 yang dipelopori oleh Auguste Comte. Dalam pencapai kebenaran maka harus menanyakan lagsung pada objek yang diteliti, dan objek dapat memberikan jawaban langsung pada peneliti yang bersangkutan. Metodologi yang digunakan eksperiment empiris atau metodologi yang lain agar temuan yang diperoleh benar-benar objektif dan menggambarkan yang sebenar-benarnya.

Ilmu sosial positivistic digali dari beberapa pemikiran dari tokoh-tokohnya yakni Saint Simon (Prancis), Auguste Comte (Prancis), Herbert Spencer (Inggris), Emile Durkheim (Prancis), Vilfredo Pareto (Italia). Saint Simon menggunakan metodologi ilmu alam dalam membaca realitas sosial masyarakat, ia mengatakan bahwa dalam mempelakjari masyarakat harus menyeluruh dikarenakan gejala sosial saling berhubungan satu dengan yang lain dan sejarah perkembangan masyarakat sebennarnya menunjukan suatu kesamaan. Ilmu pengetahuan bersifat positif yang dicapai melalui metode pengamatan, eksperimentasi dan generalisasi sebagaimana digunakan dalam ilmu alam.

  1. 2.     Ilmu Sosial Kontruktivisme

            Paradigma konstruktivis dalam ilmu sosial merupakan sebagai kritik terhadap ilmu sosial positivistic. Menurut paradigma ini, yang menyatakan bahwa realitas sosial secara otologis memiliki bentuk yang bermacam-macam merupakan konstruksi mental, berdasarkan pengalman social, bersifat lokal dan spesifik dan tergantung pada orang yang melakukan.      Realitas sosial yang diamati seseorang tidak dapat digeneralisir pada semua orang yang biasa dilakukan oleh kaum positivistic. Epistemologi antara pengamatan dan objek dalam aliran ini bersifat satu kesatuan, subjektif dan merupakan hasil perpaduan interaksi antara keduanya. Aliran ini menggunakan metodologi hermeneutic dan sialektis dalam proses mencapai kebenaran. Metode yang pertama kali dilakukan melalui identifikasi kebenaran atau konstruksi pendapat orang-perorang, kemudian membandingkan dan menyilangkan pendapat dari orang sehingga tercapai suatu konsensus tetang kebenaran yang telah disepakati bersama.

Dalam ilmu sosial positivistic bersifat bebas nilai, objektif dan dalam perubahan yang terjadi dalam masyarkat memandangnya pada evolusi social. Perubahan yang terjadi dengan evolusi tersebut yang menekannkan pada ekulibrium ini, sehingga dalam ilmu sosial positivistic lebih bersifat status quo dan tidak peka perubahan. Pandangan yang digunakan dalam ilmu ini menggunakan pendekatan makro melihat realitas sosial dengan menggunakan system dan bagaiman individu terbentuk oleh system sehingga bersifat deterministic.

Aliran konstruktivis merupakan respon terhadap positivistic dan memiliki sifat yang sama dengan positivistic, sedangkan yang membedakan objek kajiannya sebagai star awal dalam memandang realitas social. Positivistic berangkan dari system dan struktur social sedangakan konstruktivis berangkat dari subjek yang bermakna dan memberikan makna dalam realitas sosial. Jika mau diturunkan dalam metodologi penelitian menjadi tujuan ilmu sosial ini memahami realitas social, ilmu bersifat neutral dan bebas nilai. Asumsi dasar yang digunakan bahwa manusia sebagai mahluk yang berkesadaran.

  1. 3.     Ilmu Sosial Kritis

            Ilmu sosial kritis tidak dapat dilepaskan dari pemikiran filosof kontemporer di Jerman yang mencoba mengembangkan teori Marxian guna memecahkan persolan yang dihadapi sekarang. Teori sosial ini merupakan upaya pengkritisan terhadap the father dari filsafat Jerman dan mengkritisi pemikiran Marx yang telah menjadi ideology bukannya ilmu. Marx yang telah menjadi ideology dapat dilihat pada Negara komunis sehingga ajaran Marx membatu dan tidak besifat transformative.

Secara garis besar Mazhab Frankfurt dalam kelahirannya upaya mengkritisi pemikiran ilmu sosialyang selama ini dan realitas sekarang. Ritzer mencoba memetakan tentang sasaran kritik para pemikir dari mazhab Frankfurt yakni ada lima macam, pertama kritik terhadap dominasi ekonomi, kritik terhadap sosiologi pada intinya mengatakan bahwa sosiologi bukanlah sekedar ilmu atau metode sendiri tetapi harus dapat mentransformasikan struktur sosialdan membantu manusia keluar dari tekanan struktur, kritik filsafat positivistic yang memandang manusia sebagai objek (alam) dan tidak tanggap terhadap perubahan, kritik terhadap masyarakat modern yang telah dikuasai oleh revolusi budaya, kritik budaya (birokrasi) yang menyebabkan masyarakat dibatasi oleh mekanisme adminitrasi, dan melahirkan budaya semu yang melahirkan represifitas struktur yang melumpuhkan manusia.

Teori kritis dalam mengkritik masyarakat modern dilakukan dengan dua cara; pertama, menelusi akar-akar berfikir positivistic masyarkat modern dengan melakukan proses rasionalisasi dalam masyrakat barat. Kedua, menunjukan cara berfikir positivistic yang telah mewujudkn dirinya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlaku sebagai ideology yang diterima sukarela oleh masyarakat modern. Mereka ingin mengkritik masyarakat modern sebagai struktur yang telah menindas, melainkan terlebih cara berfikir positivistiklah yang menjadi ideology dan mitos. Rasionalitas pada zaman ini berfungsi sebagai ideology dan dominasi, dan menjadikan cara berfikir saitis telah membeku menjadi ideology atau mitos. Ilmu pengetahuan dan teknologi bukan mengamdi kepada manusia melainkan manusia yang mengabdi kepada ilmu pengetuan dan teknologi. Menurut mazab ini manusia sekarang tidak ditindas oleh manusia yang lain tetapi ditindas oleh system teknologi mencengkram segenap alamiah dan social manusia. Apa yang meeka sebut iu merupakan rasional teknologis, merupakan karakter dari zaman rasional sekarang ini. Pada genrasi pertama mereka mengalami jalan buntu dikarenakn mereka tidak dapat menemukan jalan keluar dari masyarakat yang mereka kritik. Pada teori kritis pertama konsep praksis merupakan kerja dalam pandangan Marxian. Praksis emansipatoris yang mereka lakukan dapat menimbulkan perbudakan baru karena emansipasi penguasaan baru. Oleh karena itu Habermas sebgai generasi kedua menawarkan praksis kdisamaping praksis kerja. Hal tersebut dikarenakan komunikasi msih ada kebebasan sehingga masih ada tempat bagi rasio kritis. Degan ide komuikasi Habermas mengtasi positivisme dengan menunjukan kjeterkaitan antara teori dan praktik. Praktis kerja dan komunikasi merupakan dua tindakan dasar manusia yang menentukan manusia sebgai spesies bergerak dan hidup di dalam duania.

  1. 4.  Ilmu Sosial Profetik

             Secara kelahirannya ISP merupakan suatu hasil dari pemikiran tokoh yang prihatin melihat realitas sekarang dan mencoba untuk melakukan transformasi guna menciptakan yang lebih baik. ISP sebagai produks dari pemikiran perlu mendapatkan pengkritisan sebagai sarana pembenahan baik segi teori ataupun metodologinya sehingga ISP dapat sejajar dalam paradigma ilmu sosialyang lain. ISP selama ini, merupakan suatu gerilya intelektual dan masih dimiliki oleh kalangan akdemisi tetapi hanya sekedar wacana dan discausce.

Pemahaman kalangan akademisi tentang ISP belum dapat disejajarkan paradigma ilmu sosial yang lain. Pemahaman tersebut menjadikan akademisi kurang begitu serius, menjadikan ilmu ini setara dan sejajar dengan paradigma ilmu sosialyang lain bercorak liberal ataupun yang perfeksionis. Oleh karena itu, perlu adanya kajian yang lebih dalam tentang ISP guna dapat merekonstruksinya, agar ISP dapat digunakan untuk melihat dan menyelesaikan problem social yang selama ini terjadi. Untuk lebih jauh dapat dilihat pemikiran tokoh yang mencoba melontarkan ISP sebagai alternative dalam teori sosial kontemporer.

  1. C.    Aspek – Aspek  Perubahan Sosial

            Dalam ilmu sosiologi dibedakan antara sosiologi makro dan sosiologi mikro. Sosiologi makro adalah ilmu sosiologi yang mempelajari pola-pola sosial bersekala besar terutama dalam pengertian komparatif dan historis, misalnya antara masyarakat tertentu, atau antara bangsa tertentu. Sosiologi mikro lebih memberikan perhatian pada perilaku sosial dalam kelompok dan latar sosial masyarakat tertentu. Berangkat dari pengertian tersebut agak sulit menempatkan studi perubahan sosial, apakah dalam posisi sosiologi makro atau mikro. Akan tetapi, mempertimbangkan beberapa hal, seperti akan dijelaskan kemudian, studi perubahan sosial berwajah ganda, baik sosiologi makro maupun mikro.             Namun demikian, merumuskan suatu konsep atau definisi yang dapat diterima berbagai pihak merupakan pekerjaan yang sulit dan bisa jadi tidak bermanfaat. Itulah sebabnya, dalam kajian ini teori perubahan sosial yang dikedepankan tidak berpretensi untuk memuaskan sejumlah tuntutan. Dalam kajian ini yang dimaksud dengan satu pengertian perubahan sosial adalah terjadinya perubahan dari satu kondisi tertentu ke kondisi yang lain dengan melihatnya sebagai gejala yang disebabkan oleh berbagai faktor. Hal itu terjadi lebih sebagai dinamika “bolak-balik” antara hakikat dan kemampuan manusia sebagai makhluk yang hidup dan memiliki kemampuan tertentu (faktor internal) berdialektika dengan lingkungan alam (fisik), sosial, dan budayanya (faktor eksternal). Persoalan yang dibicarakan oleh teori perubahan sosial antara lain sebagai berikut. Pertama, bagaimana kecepatan suatu perubahan terjadi, ke mana arah dan bentuk perubahan, serta bagaimana hambatan-hambatannya. Dalam kasus masyarakat Indonesia, hal ini dapat dilakukan dengan melihat sejarah perkembangan sosialnya. Seperti diketahui, Indonesia mengalami proses percepatan pembangunan, atau modernisasi awal terutama setelah tahun 1900-an, yakni ketika Belanda memperkenalkan kebijakan politik etis. Akan tetapi, seperti akan dijelaskan kemudian, percepatan perubahan di Indonesia terutama terjadi setelah tahun 1980-an. Hal itu berkaitan dengan pengaruh timbal balik perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta beberapa kemudahan yang disebabkan faktor tersebut.

Kedua, faktor apa yang berpengaruh terhadap perubahan sosial. Dalam hal ini terdapat enam faktor yang berpengaruh terhadap perubahan sosial, yaitu :

  1. Penyebaraan informasi, meliputi pengaruh dan mekanisme media dalam menyampaikan pesan-pesan ataupun gagasan (pemikiran);
  2. Modal, antara lain Sumber Daya Manusia ataupun modal finansial;
  3. Teknologi, suatu unsur dan sekaligus faktor yang cepat berubah sesusai dengan perkembangan ilmu pengetahuan;
  4. Ideologi atau agama, bagaimana agama atau ideologi tertentu berpengaruh terhadap porses perubahan sosial;
  5. Birokrasi, terutama berkaitan dengan berbagai kebijakan pemerintahan tertentu dalam membangun kekuasaannya;
  6. Agen atau aktor.

Ketiga, dari mana perubahan terjadi, dari negara, atau dari pasar bebas (kekuatan luar negeri), atau justru dari dalam diri masyarakat itu sendiri.

Keempat, hal-hal apa saja yang berubah dan bagaimana perubahan itu terjadi. Seperti diketahui, perubahan dapat sesuatu yang berbentuk fisik (tampak/material), misalnya terjadinya pembangunan dalam pengertian fisik, tetapi ada pula hal-hal yang tidak tampak (nonmaterial), seperti pemikiran, kesadaran, dan sebagainya.

Kelima, hal-hal atau wacana-wacana apa saja yang dominan dalam proses perubahan sosial tersebut? Misalnya, untuk kasus Indonesia di antara enam faktor perubahan seperti disinggung di atas,  di antaranya yang dominan, dan mengapa hal tersebut terjadi.

Keenam, bagaimana membedakan konteks-konteks perubahan dalam setiap masyarakat dan bagaimana proses sosial tersebut berlangsung. Dalam masalah ini, pertama, ada yang disebut proses reproduksi, yakni proses pengulangan-pengulangan dalam ruang dan waktu yang berbeda seperti halnya warisan sosial dan budaya dari masyarakat sebelumnya. Kedua, apa yang disebut sebagai proses transformasi, yakni suatu proses perubahan bentuk atau penciptaan yang baru, atau yang berbeda dari sebelumnya (Aprinus Salam, 2004:3).

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.     Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Perkembangan teori sosiologi tidak lepas dari pengaruh perubahan sosial, dan pertumbuhan intelektual yang berkembang pada abad pertengahan.
  2. Ilmu sosial dinamakan demikian, karena ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehiduapan bersama sebagai objek yang dipelajari.
  3. Perkembangan teori sosial selanjtnya melahirkan teori-teori, antara lain :
    1. Positivisme Perancis Paska-Revolusi
    2. Historisisme Jerman.
    3. Pragmatisme Amerika dan Psikologi Sosial.
  4. Paradigma merupakan unit consensus yang amat luas dalam ilmu pengetahuan dan dipakai untuk memalakukan pemilihan masyarakat ilmu pengetahuan (sub-masyarakat) yang satu dengan masyarakat pengetahuan yang lain.
  5. Paradigama sosial mengacu pada orientasi perceptual dan kognitif yang dipakai oleh masyarakat komunikatif untuk memahami dan menjelaskan aspek tertentu dalam kehidupan sosial.
  6. Terdapat beberapa paradigma sosial yang berkembang, diantaranya adalah sebagai berikut :
    1. Ilmu Sosial Posivistik

Positivistic merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang paling awal muncul dalam dunia ilmu pengetahuan.

  1. Ilmu Sosial Kontruktivisme

Menurut paradigma ini, yang menyatakan bahwa realitas osial secara otologis memiliki bentuk yang bermacam-macam merupakan konstruksi mental, berdasarkan pengalman social, bersifat lokal dan spesifik dan tergantung pada orang yang melakukan.

  1. Ilmu Sosial Kritis

Teori sosial ini merupakan upaya pengkritisan terhadap the father dari filsafat Jerman dan mengkritisi pemikiran Marx yang telah menjadi ideology bukannya ilmu.

  1. Ilmu Sosial Profetik

Secara kelahirannya ISP merupakan suatu hasil dari pemikiran tokoh yang prihatin melihat realitas sekarang dan mencoba untuk melakukan transformasi guna menciptakan yang lebih baik.

  1. Faktor-faktor  yang berpengaruh terhadap perubahan sosial, antara lain :
    1. Penyebaraan informasi, meliputi pengaruh dan mekanisme media dalam menyampaikan pesan-pesan ataupun gagasan (pemikiran);
    2. Modal, antara lain Sumber Daya Manusia ataupun modal finansial;
    3. Teknologi, suatu unsur dan sekaligus faktor yang cepat berubah sesusai dengan perkembangan ilmu pengetahuan;
    4. Ideologi atau agama, bagaimana agama atau ideologi tertentu berpengaruh terhadap porses perubahan sosial;
    5. Birokrasi, terutama berkaitan dengan berbagai kebijakan pemerintahan tertentu dalam membangun kekuasaannya;
    6. Agen atau aktor.
  1. B.    Saran
  2. Bagi semua pihak yang peduli terhadap ilmu sosial, mari kita berusha memahami perkembangan teori sosial yang dapat mendorong berkembangnya ilmu sosial
  3. Bagi pihak yang berkaitan langsung maupun tidak langsug dengan pembangunan bidang sosial perlu ikut berpartisipasi terhadap peningkatan konsep pemikiran dalam pengaturan kehidupan sosial di masyarakat.
  4. Kepada para pemerhati ilmu sosial mari kita buka wacana pemikiran yang mampu membuka peluang-peluang bagi makin berkembangnya teori-teori sosial

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s